MTs NU milik siapa?

 

Organisasi NU (Nahdlatul Ulama), boleh saja menganggap enteng MTs NU Pakis. Sejak beroperasi tahun 1967, nyaris sekedar memenuhi kebutuhan ijazah murid-muridnya. Jangan harap ada prestasi, karena peluangnya kecil. Satu hal lagi yang menggelitik, ketika banyak orang yang mempertanyakan bahwa MTs NU milik siapa?

Operasional sekolah ini dulunya bergantian gedung dan kelas dengan MI Al-Hidayat yang merupakan madrasah yang sepayung organisasi. Paginya dipakai MI dan siangnya dipakai MTs. Lahan yang dipakai madrasah merupakan wakaf almarhum Haji Rouf.

Kekuatan madrasah ini hidup di tengah komunitas santri nahdliyin. Ada garis segitiga yang unik antara pengurus yayasan Al-Hidayat, umat islam di desa Bunut Wetan, dan para pengajar MTs NU Pakis. Merekalah pemilik sekaligus user-nya. Lalu kontribusi apalagi yang diberikan kepada organisasi? Sementara MTs NU ini dulunya serasa hidup segan, mati tak mau. Sebab dana yang diperoleh dari SPP, masih belum layak untuk dibagikan kepada guru dan petugas administrasi lainnya. Praktik madrasah ini jadi campur aduk antara pendidikan, bisnis beromzet kecil, dan ibadah.

Empat puluh tiga tahun kemudian, terjadi perubahan dramatik. MTs NU bereformasi diri. Tradisi pembelajaran diubah menjadi pagi hari, setelah berhasil membeli tanah dan membangunnya dengan ruang-ruang kelas baru. Revolusi besar ini dilakukan oleh sekelompok guru muda yang dipimpin Najmah. Beliau adalah guru bantu yang diangkat sebagai PNS di lingkungan Kementerian Agama Kabupaaten Malang. 

Najmah datang pada ruang dan waktu yang tepat, saat reputasi madrasah itu rontok. Madrasah hampir mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat kerena banyak siswa dari kelas 9 yang tidak lulus ujian nasional. Dari 55 siswa kelas 9 yang ikut ujian nasional, hanya 8 siswa yang lulus. 

  Berbekal semangat bonek dan cara pemikiran, beliau berani membuat perubahan. Ia juga mengajarkan kepada para guru akan arti sebuah keikhlasan. Ibarat melukis, bagus atau tidaknya tergantung pada kanvas dan mutu catnya. Kanvasnya adalah komunitas santri NU dan catnya adalah keikhlasan.

Kini MTs NU Pakis memiliki brand bagus. Muridnya mau membayar mahal untuk bisa masuk madrasah ini. Madrasah ini bisa lulus dengan nilai bagus dan bekal ekstrakulikuler yang mumpuni, guru-guru madrasah ini sudah sejahtera, serta kunjungan study banding sekolah-sekolah dari penjuru negeri. 

Tak banyak masyarakat sekitar yang tahu akan gaungnya yang besar hingga ke pelosok negeri karena prestasi-prestasi yang diraih hingga ranah nasional. Sinarnya tampak terang dari jauh, namun tak tampak dari dekat. Lalu MTs NU ini sebenarnya milik siapa? Pasalnya yang bersekolah di sini kebanyakan siswa lulusan SD, karena para wali siswa senang dengan adanya kegiatan sholat berjamaah (dhuha, dzuhur, dan azshar), mengaji, sncak break dan makan bersama, caretaker, aksi, ekstrakulikuler yang beragam, dan tentunya pembelajaran yang aktif inovatif. Harapannya agar para siswa benar-benar memiliki pribadi yang berkarakter dan berakhlaqul karimah. Selain itu ada beberapa siswa yang berasal dari kota lain. Ada yang dari Madura, Magelang, Yogyakarta, dan daerah lainnya. 

Sementara yang dari MI sekitar, lebih memilih ke sekolah negeri atau ke pondok pesantren. Memang madrasah ini belum menyediakan fasilitas berupa asrama, namun madrasah ini terus mengembangkan diri dengan memperluas tanah yang dimiliki saat ini, agar ke depan segera terbangun asrama yang layak bagi murid-muridnya.

Ukuran keberhasilan pengembangan sekolah tidak hanya  diukur dari keberhasilan yang bersifat investatif atau ketersediaan sumberdaya pendidikan, seperti sarana prasarana, guru yang memenuhi standar kualifikasi, kecukupan pendanaan semata atau banyaknya murid. Akan tetapi harus diukur dari seberapa besar investasi itu berdampak pada peningkatan kinerja madrasah dan ukuran paling utama adalah seberapa besar hal-hal itu berdampak terhadap keefektifan belajar siswa dalam berbagai ranah kecerdasan. Meliputi kecerdasan intelektual, kinestetikal, estetikal, etikal, dan emosional.

Lembaga ini ternyata bukan yang terjelek, karena di dalamnya menyimpan energi keikhlasan yang besar. MTs NU Pakis adalah produk histori. Murid yang sekolah di sini, dimulai dari kecintaan orang tua sebagai pendahulu mereka yang juga pernah sekolah di sini. Inilah yang menjadi pembeda MTs NU Pakis dari masa ke masa. Tidak ada desain apapun di balik ledakan pemberitaan MTs NU Pakis, kecuali guru-gurunya yang kreatif membungkus semua kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan. Makin serius pula penelitian-penelitian menyoal madrasah maupun sepak terjang pimpinannya. Semua tercipta seperti koordinat. Organisasi NU boleh bangga dengan MTs NU Pakis.

Sekali lagi  MTs NU milik siapa? Jawaban yang pasti adalah milik kita semua yang wajib kita jaga keberadaan dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajarnya yang super kreatif.